TAFSIR NUSANTARA (KONSEP KHALIFATULLAH MENURUT M. QURAISH SHIHAB)

BAB I

TAFSIR NUSANTARA

KONSEP KHALIFATULLAH MENURUT M. QURAISH SHIHAB

A. PENGERTIAN KHALIFAH

1. Etimologi

kata khalifah berasal dari kata kholafa- yakhlifu/yakhlufu- kholfan- wa khilafatan yang berarti mengantikan, menempati tempatnya. Sedangkan kata khalafu di artikan orang yang datang kemudian atau ganti, penganti. Dan kata al-khaalifatu mempunyai pengertian umat penganti, yang berbeda pengertianya dengan al-khaliifatu yang benuk jama’nya khulafa’ dan khalaaif yang bfrarti khalifah.[1]

Nurcholis Madjid mengartikan khalifah dengan yang mengikui dari belakang, jadi wakil atau pengganti di bumi.[2]

Sedangkan menurut M. Quraish Shihab kata khalifah, berakar dari kata khulafa’ yang pada mulanya berarti belakang, kemudian seringkali diartikan sebagai pengganti. Karena yang menggantikan selalu berada atau datang dari belakang, sesudah yang digantikannya.[3]

Adapun Dawam Raharjo memberikan pengertia kholifah dalam al-Qur’an diantaranya: mereka yang datang kemudian, sesudah kamu, yang di perselisihkan, silih berganti, berselisih dan pengganti.[4]

2. Terminologi

Pengertian khalifah menurut Hasan Langgulung berdasarkan siapa mengantikan siapa dalam kata khalifah ada tiga pendapat. Pertama, mengatakan bahwa umat manusia sebagai makhluk yang menggatikan makhluk yang lain yang telah menempati bumi ini. Dipercayai bahwa makhluk itu adalah Jin. Kedua, khalifah hanya bermakna mana-mana manusia menggantikan yang lain. Ketiga, khalifah tidak sekedar seorang menggatikan orang lain, tapi ia (manusia) adalah pengganti Allah. Allah datang dulu, khalifah bertindak dan berbuat sesuai dengan perintah Allah.[5]

M. Quraish Shihab memberi sebuah kongklusi, bahwa khalifah adalah seseorang yang di beri kedudukan oleh Allah untuk mengelolah suatu wilayah, ia berkwajiban menciptakan suatu masyarakat yang hubunganya dengan Allah baik, kehidupan masyarakat harmonis dan agama, akal, dan budayanya terpelihara.[6]

Sedangkan Endang Saifuddin Anshari mengartikan khalifaullah sebagai penerjemah sifat-sifat Allah swt dalam kehidupan dan penghidupan manusia, dalam batas-batas kemanusiaan.[7]

Menurut Dawam Raharjo pengertian khalifah dalam hal kedudukan manusia sebagai pengganti Allah, mempunyai makna:

  1. khalifatullah adalah Adam. Karena Adam simbol bagi seluruh manusia, maka manusia adalah khalifah
  2. khalifatullah adalah suatu generasi penerus atau pengganti, yaitu khalifah diemban secara kolektif oleh suatu generasi.
  3. khalifatullah adalah kepala negara atau kepala pemerintahan.[8]

Namun ketiga makna ini yang paling tepat untuk dierapkan sebagai kedudukan manusia adalah yang pertama, yang memposisikan manusia secara keseluruhan sebagai khalifatullah.

B. EKSISTENSI MANUSIA DALAM PRESPEKTIF KEKHALIFAHAN

1. Eksistensi manusia

Istilah eksistensi mempunyai makna yang terkaya dan terdalam, ditemukan dalam bahasa arab. Eksistensi berasala dari akar kata kerja wajada, bentuk kata ini berarti “menemukan” dan turunnya adalah wujud (ada), wijdan (sadar), wajd (nirwana) dan wujd. Dalam bentuk wajd, wujd, dan wijdan berarti “mempunyai milik”, dan mempunyai milik pada akhirnya mengantarkan pada wujud independen, yakni wujud yang tidak tergantung pada yang lain. Mana lain dari istilah wujud (eksisensi) dan suatu keberadaan yang dirasakan, ditemukan dan ditentukan oleh panca indera. Karena itu dapat dikatakan bahwa ada sesuatu yang dapat dirasakan panca indera. Di sisi lain ada juga keberadaan yang tidak dapat diketahui dengan perasaan tapi dengan nalar.[9]

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa eksisensi manusia berarti keberadaan manusia, artinya segala sesuatu yang ada atau yang muncul yang dapat diemukan atau dirasakan pada diri manusia baik secara fisis maupun metafisis, empiris maupun meta empiris.

Ada pengertian eksistensi manusia oleh Al-Ghazalli didefinisikan sebagai komposisi yang meperlihatkan keberadaan manusia dalam suatu totalitas. Artinya manusia sebagai kenyataan faktual terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu komposisi yang menunjukkan keberadaannya.[10]

Eksistensi manusia merupakan perpaduan antara beberapa unsur yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Menurut Ibnu Qoyyim, hakikat diri manusia itu merupakan paduan antara beberpa unsur yang saling berkaitan dan tidak mungkin dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lainnya. Beberapa unsur yang dimaksud itu adalah ruh, akal dan badan.[11]

Hal yang sama juga dikemukakan oleh M. Qutb bahwa dalam perspektif islam eksistensi manusia yang merupakan paduan antara ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang terpadu dan saling berkaitan, badan yang bersifat materi tidak bisa dipisahkan dengan akal dan ruh yang bersifat imateri. Masing-masing dari ketiga unsur tersebu memiliki daya aau potensi yang saling mendukung dan melengkapi dalam perjalanan hidup manusia.[12]

Menurut Harun Nasution, unsur-unsur materi manusia mempunyai daya fisik seperti mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium dan daya gerak. Sementara itu unsur imateri mempunyai dua daya, yaitu daya berfikir yang disebut akal dan daya rasa yang berpusat dikalbu. Untuk membangun daya fisik perlu dibina melalui latihan-latihan keterampilan dan panca indera. Sedangkan untuk melatih daya akal dapat dipertajam melalui proses penalaran dan berfikir. Sedangkan untuk mengembangkan daya rasa dapat dipertajam melalui ibadah seperti shalat, puasa dan lain-lain, karena intisari ibadah dalam islam adalah taqarrub ilallah, mendekatkan diri kepada Allah. Yang dapat didekati melalui ruh yang suci dan ibadah adalah sarana laihan setrategis untuk mensucikan ruh atau jiwa.[13]

Uraian diatas memberi gambaran bahwa islam memiliki cara pandang yang utuh terhadap diri atau eksisensi manusia. Islam menolak pandangan yang parsial sebagaimana yang telah dilakukan materialisme dan spiritualisme yang hanya menonjolkan satu aspek unsur manusia.

2. Eksistensi Manusia dalam Perspektif Kekhalifahan

Manusia mempunyai keistimewaan dibanding dengan makhluk Tuhan yang lainnya dimuka bumi ini. Keistimewaan ini bisa dilihat dari sisi penciptaan fisik maupun personalitas karakternya. Karena keistimewaannya itu, manusia memiliki tugas dan kewajiban yang berbeda dengan makhluk yang lain.[14]hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al-Baqarah ayat 30-33 yang memaparkan proses kejadian manusia dan pengangkatannya sebagai khalifah.

Proses kejadian inilah yang dapat memberikan pengertian kedudukan manusia sebagai khallifatullah dalam Alam Semesta. Sebagaimana diungkapkan beberapa penafsir berikut:

a)      Musthafa Al-Maraghi

Menurut Musthfa Al-Maraghi Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33 menceritakan tentang kisah kejadian umat manusia. Menurutnya dalam kisah penciptaan Adam yang terdapat dalam ayat tersebut mengandung hikmah dan rahasia yang oleh Allah diungkap dalam bentuk dialok antara Allah dengan malaikat. Ayat ini termasuk ayat Mutasyabihat yang tidak cukup dipahami dari segi dhahirnya ayat saja. Sebab jika demikian berarti Allah mengadakan musyawarah dengan hambanya dalam melakukan penciptaan. Sementara hal ini adalah mustahil bagi Allah. Karena ayat ini kemudian diartikan dengan pemberitaan Allah pada para malaikat tentang penciptaan Khalifah di Bumi yang kemudian para Malaikat mengadakan sanggahan. Berdasarkan tersebut, maka ayat diatas merupakan tamsil atau perumpamaan dari Allah agar mudah dipahami oleh manusia, khususnya mengenai proses kejadian Adam dan keistimewaannya. Untuk maksud tersebut Allah memberitahu kepada Malaikat tentang akandicipakannya seorang Khalifah di bumi. Mendengar keputusan ini para malaikat terkejut kemudian mereka bertanya kepada Allah dengan cara dialog. Ini dimisalkan jika mereka berbicara sebagaimana manusia. Atau diungkapkan dalam bentuk sikap yang menyatakan perasaan malaikat terhadap Allah. Mereka menghadapa kepada Allah agar diberi pengetahuan tenang makhluknya ini. Pernyataan malaikat tersebu seakan-akan mengatakan kenapa Tuhan meciptakan makhluk jenis ini dengan bekal iradah dan ikhtiyar yang takterbatas. Sebab dalam pengertian malaikat sangat  mungkin manusia dengan potensi tersebu ia akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Untuk menjawab pertanyaan para malaikat ini Allah memeri pengertian kepada mereka dengan cara ilham agar mereka tunduk dan taat kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Jawaban seperti ini sudah cukup jelas dan tegas, bahwa ada rahasia dan hikmah yang tidak diketahui oleh para malaikat yang terkandung dalam penciptaan Adam (Manusia) sebagai Khalifah di bumi. Dijelaskan ayat diatas bahwa Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam, kemudian nama-nama itu ditunjukkan Adam kepada Malaikat atas perintah Allah, akan tetapi malaikat tidak bisa menyebutkan kembali nama-nama yang telah ditunjukkan Adam kepada mereka. Kejadian itu menyadarkan malikat bahwa secara fitrah manusia mempunya isti’dad (bakat) untuk mengetahui hal-hal yang belum mereka ketahui. Ringkasnya manusia dengan kekuaan akal ilmu dan daya tangkap, iya bisa berbuat mengelola Alam Semesta dengan penuh kebebasan. Manusia dapat berkreasi, mengolah perambangan dan tumbuh-tumbuhan, dapat menyelidiki lautan, daratan dan udara serta dapat merubah wajah bumi, yang tandus bisa menjadi subur, dan bukit-bukit terjal bisa menjadi dataran atau lembah yang sangat subur. Dengan kemampuan akalnya manusia dapat pula merubah jenis tnaman baru sebagai hasil cangkok sehigga tumbuh pohon yang sebelumnya belum pernah ada. Semuanya ini diciptakan Allah untuk kepentingan manusia, hal diatas merupakan bukti yang jelas hikmah menjadikan manusia sebagai Khalifah di bumi. Dengan kemampuan yang ia miliki ia dapat mengungkapkan keajaiban-keajaiban cipaan Allah dan rahasia-rahasia makhluknya. Al-Maraghi menambahkan, dalam ayat diatas memberi gambaran bahwa Allah elah melebihkan manusia dari maklhuk yang lain. Karena dalam diri manusia telah disediakan “alat” yang dengannya manusia bisa meraih kematangan sacara sempurna dibidang ilmu pengetahuan, lebih jauh jangkauannya dibanding makhluk lain termasuk malaikat. Berdasarka inilah manusia lebih diutamakan menjadi khalifah di bumi dibanding malaikat.[15]

b)      M . Quraish Shihab

M. Quraish Shihab menyebukan Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33 berbicara tentang kewajaran manusia dan ketidak wajaran malaikat mmenjadi khalifah di bumi. Menurutnya pengeahuan yang dianugerahkan Allah kepada Adam (Manusia) berupa kemampuan mengetahui segala sesuatu dari benda-benda ciptaan Allah dan fenomena alam merupakan bukti kewajaran Adam menjadi Khalifah di bumi sekaligus ketidak wajaran malaikat menjadi khalifah di bumi. Karena malaikat memang tidak memiliki pengetahuan yang dimiliki oleh Adam (Manusia). Dengan demikian pengetahuan atau potensi berilmu yang dianugerahkan Allah kepada Adam (Manusia) merupakan syarat sekaligus modal utama untuk mengelola bumi ini. Tanpa pengeahuan atau potensi berilmu, maka tugas kekhalifahan manusia akan gagal, meskipun ia tekun ruku’, sujud dan beribadah sebagaimana malaikat. Bukankah malaikat yang sedemikian taatnya dinilai tidak layak menjadi khalifah di bumi karena ia tidak memiliki pengeahuan tentangnya. Melalui kisa ini Allah menegaskan bahwa bumi tidak cukup dikelola hanya dengan tasbih dan tahmid tetapi dengan amal ilmiah dan ilmu amaliyah.[16]

c)      Rasyid Ridha

Berikut ini penjelasan beliau terhadap Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33: dalam ayat tersebu dijelaskan bahwa Allah hendak menjadikan khalifah di bumi, yaitu Adam dan keturunannya yang telah dilengkapi dengan berbagai potensi. Dijadikannya Adam sebagai Khalifah di bumi adalah agar ia menjalankan amanah Allah yaitu dengan menegakkan aturan-aturan-Nya, menampakkan keajaiban karya-Nya, rahasia-rahasia ciptaan-Nya, keindahan-keindahan hikmah-Nya  serta manfaat-manfaat hukum-Nya. Malaikat semula heran mengapa Allah hendak menjadikan seorang khalifah yang justru akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Pada hal sudah ada malaikat yang selalu taat, memuji dan mensucikan-Nya. Allah lalu mengatakan bahwa ada rahasia yang tidak dikeahui oleh malaikat mengenai kekhalifahan ini. Mereka tidak mempunyai keampuan menyabut nama-nama benda sebagaimana Adam. Adam dengan kemampuan ini tidak hanya memiliki potensi untuk merusak dan menumpahkan darah tapi juga memiliki keampuan untuk berbuat mashlahah. Selanjunya Rasyid Ridha menjelaskan bahwa manusia bersamaan dengan kebodohan dan kelemahannya, ia telah diberi kekuatan lain yang disebut “akal”. Dengan kekuatan ini manusia menjadi makhluk yang memiliki kehendak dan kebebasan unuk berbuat. Hal itu menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif. Telah banyak penemua ilmiah atau rahasia-rahasia alam yang telah diungkap oleh manusia yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Hal itu merupakan bukti potensi kreatif yang dimiliki manusia. Agar potensi akal yang diberikan Allah kepada manusia membawa kemanfaatan dan kemaslahatan, maka Allah juga membeikan kepada manusia hukum-hukum syari’at yang membatasi amal perbuatan serta akhlak manusia yang dapat mencegahnya dari berbuat maksiat dan kerusakan. Hukum-hukum inilah yang akan membantu manusia untuk sampai kepada kesempurnaan. Karena fungsi dari hukum atau syariat itu adalah untuk membimbing atau mendidik (akal manusia) yang dalam batas-batas tertentu bisa berakibat negatif. Potensi akal yang menyebabkan manusia menjadi makkhluk yang kreatif inilah yang menjadikan dia berbeda dari makhluk yang lainnya, termasuk malaikat. Atas hujjah ini pula Allah mengangkat manusia menjadi Khalifah di bumi. Dalam kata penutupnya Rasyid Ridha memberikan tambahan bahwa pengangkatan Adam sebagai Khalifah di bumi sekaligus pengajaran-Nya tenang nama-nama (ilmu) merupakan cara Allah memuliakan manusia. Dan sujudnya para malaikat itu berarti menghormati asal kejadian Adam (Manusia).[17]

d)     H. Abdul Malik Amrullah (HAMKA)

Dalalm memnafsirkan Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33, Hamka mengambil kesimpulan bahwa dalam penciptaan manusia sebagai Khalifah, Allah telah melengkapinya dengan poensi yang dapat digunakan untuk menunjang fungsi kekhalifahannya itu adapun potensi yang dimaksud dalam ayat ini adalah potensi yang berupa ilmu atau pengetahuan. Menurut penjelasannya, manusia disamping diberi potensi-potensi sebagaimana makhluk lain, ia telah dianugerahi potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, yaitu akal. Akal inilah yang menjadi pembeda manusia dari makhluk lain termasuk malaikat. Dengan akalnya itu manusia bisa mengembangkan ilmunya dan mencipakan teknologi bahkan dengan akalnya itu manusia bisa menguak rahsaia-rahasia alam dengan seizin Allah. Sebagai bukti bahwa manusia memiliki potensi akal dalam konteks ayat ini bisa dilihat ketika Adam mampu menyebutkan kembali nama-nama yang telah diajarkan oleh Allah kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa Adam (Manusia) memiliki kelebihan atau keistimewaan yang tidak diberikan kepada makhluk yang lain termasuk malaikat. Kaisimewaan yang diberikan Allah kepada manusia itu merupakan cara Allah memuliakan manusia. Sehingga dalam kata penutupnya Hamka mengatakan bahwa manusia dengan kelebihan yang diberikan kepadanya tidak layak manakala ia mengabaikan kerunia itu. Sebaliknya dia harus senantiasa mensyukurinya dengan kemanfaatan.[18]

C. MAKNA DAN PERAN KEKHALIFAHAN MANUSIA DI BUMI

Manusia dipilih sebagai khalifatullah, sebagaimana diuraikan diatas, karena kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada manusia berupa ilmu pengetahuan, yang tidak diberikan kepada makhluk Allah yang lain termasuk malaikat.

Ayat-ayat diatas yang menyampaikan tentang pengajaran Allah kepada manusia memberikan pengertian bahwa untuk dapat menjalankan fungsi dan peran kekhalifahan diperlukan modal atau syarat yaitu ilmu. Hal ini senada dengan pendapat Quraish Shihab bahwa pengetahuan atau potensi yang berupa kemampuan menyebutkan nama-nama itu merupakan sayrat sekaligus modal bagi Adam (Mnusia) untuk mengelola bumi ini. Tanpa pengetahuan atau pemanfaatan potensi berpengetahuan, maka tugas kekhalifahan manusia akan gagal, meskipun ia tekun ruku’, sujud dan beribadah kepada Allah sebagaimana yang dilakukan oleh malaikat. Meski malaikat merupakan makhluk yang paling taat, tapi tetapp dinilai sebagai makhluk yang tidak memliki kemampuan untuk menjadi khalifah, karena ia tidak memiliki ilmu atau pengetahuan tentang hal itu.[19]

Adapun kemampuan Adam menyebutkan nama-nama menurut Ali dalam The Glorias Qur’an sebagaimana telah dikutip oleh Machasin, dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berinisiatif. Dalam hal ini manusia diberi kemampuan untuk memberikan nama-nama benda, yakni membentuk konsep-konsep untuk benda-benda itu. Membentuk konsep berarti menguasainya. Jadi sifat pengetahua manusia adalah konseptual. Beriinisiatif menurutnya juga berarti bahwa manusia disamping memiliki potensi merusak ia juga memiliki potensi untuk berbuat baik. Menurutnya ini menunjukkan sifat kreatif manusia. Potensi kreatif ini hanya dianugerahkan kepada manusia, dan tidak kepada malaikat maupun makhluk yang lain. Menurut Machasin, Adam atau manusia yang mempunya kemampuan untuk berbuat patuh dan durhaka didalamnya terkandung unsur kreativitas.[20]

Senada dengan pendapat diatas, Abdur Rahman Shalih Abdullah menyatakan bahwa kemampuan manusia menyebutkan nama dapat  diartikan sebagai kemampuan merumuskan konsep. Dalam penjelasan selanjutnya, ia menuturkan bahwa rumusan konsep memiliki dua faedah. Pertama, ia memberikan fasilitas berfikir. Mengapa demikian? Menurutnya konsep memungkinkan manusia melakukan analisa dan sintesa terhadap apa yang difikirkan. Berbeda dengan binatang maka manusia memiliki kemampuan merumuskan pengetahuan konseptualnya ketika menghadapi permasalahan. Faedah kedua dari pengetahuan konseptual adalah bahwa ia memungkinkan manusia ingat terhadap peristiwa-peristiwa lampau. Manusia mencatat sejarahnya, kemampuan untuk membaca sejarah menjadikan manusia mempunya kemampuan tertinggi pada aspek-aspek tertentu. Binatang tidak dapat mengingat peristiwa yang pernah dialaminya. Tidak mengherankan, Al-Qur’an menganggap sejarah sebagai ayat-ayat-Nya, yang merangsang praktek berfikir. Kenyataan-kenyataan sejarah tidak disebut sebagai memorisasi, namun kontemplasi.[21] Keunikan pengetahuan manusia, dengan kuat didukung penemuan-penemuan psikolgi. Kemampuan manusia untuk menemukan bntuk pengetahuan baru dan memcahkan situasi-situasi atau masalah-masalah baru menjadikan manusia mempunyai nilai lebih dari binatang. Perbedaan pengetahuan mamnusia dari pengetahuan binatang adalah kualiatif, dan bukan kuantitatif. Menuru Abdurrahman jaringan besar gagasan manusia hanya mungkin diterangkan dalam kemampuannya memberi nama-nama yang dilimpahkan kepada Adam as. Hal ini nyata sekali bahwa gagasan yang dicapai dan konsep-konsep yang dicapai tidak dapat dipisahkan dari peran yang dimainkan yaitu khalifah.[22]

Adapun menurut Ali Shariati, kemampuan Adam menyebutkan nama diafsirkan sebagai kemampuan Adam dalam menangkap fakta-fakta ilmiah. Nama-nama dalam ayat 31-33 tersebut ditafsirkan sebagai simbol-simbol dari fakta-fakta ilmiah, dan mempelajari hal tersebut dapat membimbing manusia kearah kebenaran-kebenaran faktual yang ada dalam Alam Semesta.[23]

Sehubungan degan penjelasan diatas, Dr. Jalaludin menambahkan bahwa potensi akal yang hanya dianugerahkan Allah kepada manusia memberi kemampuan kepadanya untuk memahami simbol-simbol, hal-hal yang abstrak, menganalisa dan membandignkan maupun membuat kesimpulan serta memilih dan memisahkan antara yang benar dari yang salah. Kemampuan akal mendorong manusia berkreasi dan berinovasi dalam menciptakan kebudayaan dan peradaban. Manusia dengan kemampuan akalnya mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengubah serta merekayasa lingkungannya, menuju situasi kehidupan yang lebih baik, aman dan nyaman.[24] Semua itu tentunya dalam kerangka menjalankan fungsi dan peran kekhalifahannya.

Diatas telah dijelaskan dari aspek kualitasnya bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk terbaik (Q.S. Al- Thin/95: 4), mulia (Q.S. Al-Isra’/17:70), yang ada dimuka bumi, disamping itu sekaligus berfungsi untuk mengemban amanat, mengisyaratkan bahwa manusia adalah makhluk terhormat dan fungsional. Artinya bukan hanya sebagai “barang hiasan” di bumi, tetapi memiliki peran dan tanggungjawab untuk melestarikan bumi.

Dalam beberapa ayat juga disebutkan bahwa manusia memiliki kehidupan ideal dan dari kehidupan ideal itu manusia didorong kepada kehidupan riil agar ia dapat teruji sebagai makhluk fungsional (Q.S. Al-Mulk/67:2). Maksudnya, hidup atau kehidupan riil adalah hidup di bumi sekaligus mati di bumi. Dalam kaitan ini menurut konsepsi Al-Qur’an manusia juga sering disebut sebagai khalifah dalam pengertian kuasa (mandataris, bukan penguasa). Dalam status itulah manusia terkait dengan berbagai hak, kewajiban, serta tanggungjawab, yang semuanya merupakan amanah baginya.

Kemuliaan manusia ini menunjukkan bahwa manusia dibanding dengan makhluk lain memiliki keistimewaan yang membawanya kepada kedudukan yang istimewa pula yaitu khalifah. Dalam kedudukan ini manusia diiberi peran untuk membangun dan mengembangkan dunia baik secara sendiri-sendiri (individualistik) maupun bersama-sama(sosial).

Manusia mampu berperan menenukan nasib mereka sendiri. Peran ini dilakukan secara sadar dan melalui kehendak bebasnya, artinya manusia dapat menentukan masadepanya atas dasar pengeahuan tentang diri, kehidupan disekeliling mereka dan berdasarkan intelekualitas serta pemeliharaan diri secara baik.

D. KARAKTERISIK KHALIFATULLAH SEBAGAI CERMIN KEPEMIMPINAN

Dalam kamus bahasa Indonesia edisi kedua, kita bisa menemukan didalamnya terdapat kata karakter dan karakerisik yang mana keduanya mempunyai pengertian yany berbeda. Perbedaan tersebut di ungkapkan bahwa, karaker adalah sifat-sifat kejiwaan ahlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Sedangkan yang dinamakan dengan karakterisik adalah ciri-ciri khusus aau mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu.[25]

Dari definisi karakeristik diatas, penulis menekankan bahwa yang dimaksud karakerisik khalifah di dalam pembahasan ini yaitu seorang khalifah yang mempunyai ciri-ciri khusus atau yang mempunyai sifat khas yang dengan sifat-sifat tersebut seseorang menjadi khalifah.

Lingkup indakan manusia dalam mewujudkan peran itu mencakup tiga karakteristik yang ada dalam sifat manusia. Perama, keluasan wawasan dan kesadaran manusia. Manusia mampu mengembangkan cakupan wawasannya melalui perangkat pengetahuannya mereka mampu mempelajari hukum-hukum dan peraturan alam, sehingga mereka menempatkan alam semesa dan kehidupan manusia dalam suatu perankat yang lebih tinggi. Kedua, memiliki keluasan wilayah yang dapat dicakup oleh kehendak manusia. Ketiga, kemampuan inheren untuk membentuk diri adalah milik eksklusif manusia, tidak ada makhluk lain yang menyandang kemampuan ini. Dengan demikian, hanya manusia sajalahyang melalui hukum-hukum penciptaan, dikaruniai kemampuan menyusun pedoman bagi dirinya, untuk mencapai masa depan seperti yang mereka kehendaki.[26]

Menurut Hasan Langgulung selaku khalifah manusia mempunyai beberapa karakteristik, yaitu;

  1. Sejak awal penciptaannya, manusia adalah baik secara firah. Ia tidak mewarisi dosa karena Adam meninggalkan sorga.
  2. Interaksi antara badan dan ruh menghasilkan khalifah. Karakteristik ini yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain.
  3. Manusia selaku khalifah memiliki kebebasan berkehendak (free will), suatu kebebasan yang menyebabkan manusia dapat memilih tingkah lakunya sendiri.
  4. Manusia dibekali akal yang dengan akal itu manusia mampu membuat pilihan antara yang benar dan yang salah.[27]

Berbeda dengan M. Quraish Shihab ysng mengharuskan memiliki karakter sebagai manusia secara pribadi maupun kelompok, mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah, guna membangun dunia sesuai konsep yang dieepkan Allah. Sehinga khalifah harus memiliki empat sisi karakter yang saling terkait. Keempat sisi tersebut adalah:

1)      Memenuhi tugas yang diberikan Allah.

2)      Menerima ugas tersebut dan melaksakannya dalam kehidupan perorangan maupun kelompok.

3)      Memelihara serta mengelola lingkungan hidup unuk kemanfaatan bersama.

4)      Menjadikan tugas-tugas khalifah sebagai pedoman pelaksanaannya.

M. Kuraish shihab memetakan karakterisik khalifatullah dengan menganalisis tafsir milik Al-Tabrasi dikemukakan didalamnya bahwa kata imam mempunyai makna yang sama dengan khalifah. Hanya kata imam digunakan untuk keteladanan, karena ia terambil dari kata yang mengandung arti depan, yang berbeda dengan khalifah yang terambil dari kata “belakang”.

Ini berarti bahwa kita dapat memperoleh informasi tentang sifat-sifa terpuji dari seorang khalifah dengan menelusuri ayat-ayat yang menggunakan kata imam. Dalam Al-Qur’an, kata imam terulang sebanyak tujuh kali dengan makna yang berbeda-beda. Namun, kesemuanya bertumpu pada arti sesuatu yang dituju dan atau diteladani. Diantara kaa imam tersebut yang paling tepat:

1. Pemimpin dalam kebijakan, yaitu pada Al-Baqarah ayat 124 dan Al-Furqan ayat 74.

Dari makna-makna diatas terlihat bahwa hanya dua ayat yang dapat dijadikan rujukan dalam persoalan yang sedang dicari jawabannya ini, yaitu surat Al-Baqarah, ayat 124.

Pada ayat tersebut, nabi Ibrahim as. Dijanjikan Allah untuk menjadi imam (inni ja’iluka li al-nas imama), dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah SWT. menggaris bawahi suatu syarat, yaitu la yanalu ‘ahdiya al-zhalimin (janji-Ku ini tidak diperoleh oleh orang-orang yang berlaku aniaya).

Keadilan adalah lawan dari penganiayaan. Dengan demikian, dari ayat diatas dapat diarik satu sifat, yaitu sifat adil, baik terhadap diri, keluarga, manusia dan lingkungan, maupun terhadap Allah.

Karakter yang perlu dibangun juga terdapat dalam surat Shaad ayat 22 dan 26. memberi keputusan yang adil saja dan tidak mengikuti hawa nafsu, belum memadai bagi seorang khalifah. Teapi, ia harus mampu pula untuk merealisasikan kandungan permintaan kedua orang yang berselisih itu, yakni wa ihdina ila sawa’ al-shirath.

M. Quraish Shihab memandang penggalan ayat ini dalam aiannya denga karakter khalifah akan menjadi jelas bila dikaitkan dengan ayat-ayat yang berbicara tentang imam atau a’immah, dalam kaitannya dengan pemimpin-pemimpin yang menjadi teladan dalam kebaikan.

Kata a’immah terdapat lima ayat didalam Al-Qur’an. Dua dianaranya dalam konteks pembicaraan tantang pemimpin-pemimpin yang diteladani oleh orang kafir, yakni Al-Taubah ayat 9, Al-Qashash ayat 4. Sedangkan tiga lainnya berkaitan dengan pemimpin-pemimpin yang terpuji, yaitu Al-Anbiya’ ayat 73, Al-Qashash ayat 5, dan Sajadah ayat 24.

Kalau ayat-ayat diatas diamati, nyaytalah bahwa Q.S. 28:25 tidak mengandung informasi tentang sifat-sifat pemimpin. Dan ini berbeda dengan kedua ayat lainnya yang saling melengkapi.

Ada lima sifat pemimpin yang diinformasikan oleh gabungan kedua ayat tersebut, yaitu:

  1. yahduna bi amrina
  2. wa awhayna dayhim fi’la al-khayrat.
  3. abidin (termasuk iqam al-shalat dan ita’ al-zakat).
  4. yuqinun
  5. shobaru.

Dari kelima sifat tersebut al-shabr (ketekunan dan ketabahan), dijadikan Tuhan sebagai konsideran pengangkatan wa ja’alnahu aimmat lamma shabaru. seakan-akan inilah sifat yang amat pokok bagi seorang khalifah, sedangkan sifat-sifat lainnya menggambarkan sifat mental yang melekat pada diri mereka dan sifat-sifat yang mereka peragakan dalam kenyataan.

Diatas telah dijanjikan untuk membicarakan arti wa ihdina ila sawa al-shirath (Q.S. 38:26), yang merupakan salah satu sikap yang dituntut dari seorang khalifah, setelah memperhatikan kandungan ayat-ayat yang berbicara tentang a’immat. Dalam surat shaad tersebut, redaksinya berbunyi wa ihdina ila, sedang dalam ayat-ayat yang berbicara tentang a’immat yang dikutip diatas, redaksinya berbunyi yahduna bi amrina. Salah satu perbedaan pokoknya ada pada kata yahdi. Yang pertama menggunakan huruf ila, sedang yang kedua tanpa ila. Al-Raghib Al-Isfahani menjelaskan bahwa kata hidayat apabila menggunakan ila, maka ia berarti sekedar memberi petunjuk; sedang bila tanpa ila maka maknanya lebih dalam lagi, yakni “memberi petunjuk dan mengantar sekuat kemampuan menuju apa yang dikehendaki oleh yang diberi petunjuk”. Ini berarti bahwa seoranag khalifah minimal mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya dan yang lebih terpuji adalah mereka yang dapat mengantarka umatnya kepintu gerbang kebahagiaan.

Dari uraian diatas M. Qurais Shihab menyimpulkan bahwa seorang khalifah yang ideal haruslah memiliki sifat-sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yuqinun dan ‘abidin merupakan dua sifat yang berbeda. Yang pertama menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi didalam dada mereka, sedangkan yang kedua menggambarkan keadaan nyata mereka.

Lebih jelas lagi M. Qurais Shihab memberi kesimpulan secara menyeluruh yang mengutip surat Al-Hajj ayat 41:

tûïÏ%©!$# bÎ) öNßg»¨Y©3¨B ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qãB$s%r& no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4qŸ2¨“9$# (#rãtBr&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ (#öqygtRur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# 3 ¬!ur èpt6É)»tã ͑qãBW{$# ÇÍÊÈ

Terjemahnya: (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.(Q.S. Al-Hajj 41).

M. Qurais Shihab mengemukakan bahwa mendirikan shalat merupakan gambaran dari hubungan yang baik dengan Allah, sedangkan menunaikan zakat merupakan gambaran dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia. Ma’ruf adalah suatu istilah yang berkaitan dengan segala sesuatu yang dianggap baik oleh agama, akal, dan budaya, dan sebaliknya dari munkar.

Dari gabungan itu semua, seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan kebudayaannya terpelihara.[28]

Memperhatikan masalah kepemimpinan dan khalifah, M. Qurais Shihab menganalisa dalam Al-Qur’an terdapat tiga kata yang menjadi rujukan makna pemimpin:

  1. Khalifah

Sebagaimana diuraikan didepan khalifah, arti dasarnya adalah yang dibelakang. Fungsinya memberi dorongan kepada yang ada didepan.

  1. Imam

Imam mempunyai arti dasar adalah yang dituju, yang diteladani. Oleh karena itu, ummi (ibu) mempunyai maka tempat yang dituju oleh anak-anaknya. Begitu juga dengan arti imam shalat, adalah orang yang dituju oleh para makmumnya ketika shalat berjamaah.

  1. Ulil amri (Jama’), Amir (Tunggal)

Amir dapat mengandung arti subyek yaitu menyuruh dan bisa memberi arti obyek yaitu yang disuruh.

Seorang pemimpin adalah seorang yang mampu menyuruh dengan baik namun juga bersedia dengan rela disuruh oleh rakyat yang dipimpinnya dan juga Allah yang telah mengangkatnya. Eorang pemimpin hendaknya semaksimal mungkin dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya, melayani rakyatnya dan sebagainya. Jika dia tidak bersedia disuruh oleh rakyat maka dia tidak layak diangkat menjadi pemimpin.

BAB II

PENUTUP

KESIMPULAN

Khalifah sebagai wakil atau pengganti Tuhan dimuka bumi harus memiliki kompetensi kepemimpinan sebagai alat untuk melaksanakan tugasnya mengelola bumi.

Memperhatikan masalah kepemimpinan dan khalifah, M. Qurais Shihab menganalisa dalam Al-Qur’an terdapat tiga kata yang menjadi rujukan makna pemimpin:

  1. Khalifah Sebagaimana diuraikan didepan khalifah, arti dasarnya adalah yang dibelakang. Fungsinya memberi dorongan kepada yang ada didepan.
  2. Imam mempunyai arti dasar adalah yang dituju, yang diteladani. Oleh karena itu, ummi (ibu) mempunyai maka tempat yang dituju oleh anak-anaknya. Begitu juga dengan arti imam shalat, adalah orang yang dituju oleh para makmumnya ketika shalat berjamaah.
  3. Ulil amri (Jama’), Amir (Tunggal), Amir dapat mengandung arti subyek yaitu menyuruh dan bisa memberi arti obyek yaitu yang disuruh

.

Seorang pemimpin adalah seorang yang mampu menyuruh dengan baik namun juga bersedia dengan rela disuruh oleh rakyat yang dipimpinnya dan juga Allah yang telah mengangkatnya. Eorang pemimpin hendaknya semaksimal mungkin dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya, melayani rakyatnya dan sebagainya. Jika dia tidak bersedia disuruh oleh rakyat maka dia tidak layak diangkat menjadi pemimpin.

DAFTAR PUSTAKA

  • Al-Maraghi, Musthafa. Tafsir Al-Maraghi (Terj.) (Semarang: Thoha Putra, 1985)
  • Dawamraharjo, M. Ensiklopedia Al-Qur’an (Jakarta: Paramadina, 1996)
  • Hamka, Tafsir Al-Azhar (Juz.1) (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1982)
  • Langgulung, Hasan. Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikolgi dan Pendidikan (Jakarta,: Pusaka Al Husna,1989),
  • Madjid, Nurcholis. Islam, Dokrin dan Peradaban (jakarta:Paramadina, 1992)
  • Munawwir, Ahmad Warson. Al munawwir, kamus Arab-Indonesia,(Yogyakara, Tampa Tahun)
  • Hasbullah, Muzaidi. Manhaj Tarbiyah Ibnu Qoyyim (Terj) (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002)
  • Jalaludin, Teologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000)
  • Nasution, Harun. Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1995) Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004)
  • Saifuddin, Endang Anshari, Wawasan Islam, Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam dan Umatnya (Bandung: Pustaka, 1983)
  • Shihab, M. Qurais. Membumikan Al-Qur’an, fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat, (Bnadung:Mizan, 2007)
  • Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Lenera Hati, 2000),
  • Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua Deparemen Pendidikan Dan Kebudayaan (Jakarta, Balai Pustaka Ali Yafie, Teologi Sosial: Telaah Kritis Persoalan Agama dan Kemanusiaan (Yogyakarta: LKPSM,1997)

[1] Ahmad Warson Munawwir, Al munawwir, kamus Arab-Indonesia,(Yogyakara):hlm. 390-391

[2] Nurcholis Madjid, Islam, Dokrin dan Peradaban (jakarta:Paramadina, 1992), hlm. 8

[3] M. Quraish Shihab, Membumikan AlQur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, cet.xxx (bandung: Mizan, 2007), hlm. 157

[4] Dawam Raharjo, Ensiklopedia Al-Qur’an (Jakarta: Paramadina, 1996) hlm. 535

[5] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikolgi dan Pendidikan (Jakarta,: Pusaka Al Husna,1989), hlm. 75

[6] M. Quraish Shihab, Membumikan AlQur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, cet.xxx (bandung: Mizan, 2007), hlm. 166

[7] Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam, Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam dan Umatnya (Bandung: Pustaka, 1983), hlm. 12

[8] M. Dawamraharjo, Ensiklopedia Al-Qur’an (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 1.

[9] Bayraktar Bayrakli, Eksistensi Manusia (Terj. Suharsono) (Jakarta: Perenial Press, 1996), hlm.5.

[10] M. Yasir Nasution, Manusia Menutut Al-Ghazalli (Jakarta: Raja Wali, 1988), hlm.64-65.

[11] Muzaidi Hasbullah, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qoyyim (Terj) (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002), hlm.21.

[12] M. Qutb, Sistem Pendidikan Islam (Terj. Salman Harun) (Bandung: Al-Ma’arif, 1993), hlm.127.

[13] Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1995), hlm.37.

[14] Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004),hlm.89.

[15] Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi (Terj.) (Semarang: Thoha Putra, 1985), hlm.133-144.

[16] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Lenera Hati, 2000),hlm.148-149.

[17] M. Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar (Beirut-Libanon, tth), hlm. 254-264.

[18] Hamka, Tafsir Al-Azhar (Juz.1) (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1982), hlm.165-166.

[19] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat, cet. xxx (Bandung: Mizan, 2007), hlm.33-34.

[20] Machasin, Menyelami Kebebasan Manusia (Yoyakarta: INHIS-Pustaka Pelajar,1996),hlm.8-10.

[21] Abdur Rahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut Al-Qur’an serta Implementasinya (Bandung: Diponegoro, 1991),hlm.132-133.

[22] Ibid, hlm.134.

[23] Ali Shariati, Tugas Cendikiawan Muslim (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm.11.

[24] Jalaludin, Teologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000),hlm.46.

[25] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua Deparemen Pendidikan Dan Kebudayaan (Jakarta, Balai Pustaka), 1996), hlm.445

[26] Ali Yafie, Teologi Sosial: Telaah Kritis Persoalan Agama dan Kemanusiaan (Yogyakarta: LKPSM,1997), hlm.137-139

[27] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikalagi dan Pendidikan, hlm.34-35.

[28] M. Qurais Shihab, Membumikan Al-Qur’an, fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat, (Bnadung:Mizan, 2007),hlm.166.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply